Mengapa Striker Belgia Penting Untuk Peluang Negaranya Di Piala Dunia
Cedera Romelu Lukaku dan kembalinya dia ke pentas internasional bisa membantu Setan Merah mencapai babak sistem gugur Piala Dunia tahun ini.
Masalah cedera Romelu Lukaku telah merusak sebagian besar musim 2025/26 baginya, namun ia kini telah pulih untuk tampil di skuad Belgia untuk Piala Dunia.
Cedera Romelu Lukaku membuat dia tidak tampil sebagai starter untuk tim Belgia dalam kemenangan telak 5-0 atas Tunisia dalam pertandingan persahabatan internasional pada Sabtu, 6 Juni.
Namun, Lukaku masuk sebagai pemain pengganti di babak kedua, yang berarti kebugarannya perlahan pulih. Lukaku sebelumnya mencetak gol dalam kemenangan Belgia atas Kroasia dalam pertandingan persahabatan internasional baru-baru ini.
Cedera Romelu Lukaku: Sang Striker Mendapatkan Kembali Kebugarannya
Cedera Romelu Lukaku membuat ia hanya bermain dalam tujuh pertandingan untuk Napoli musim ini, hanya mencetak satu gol. Lukaku telah memenangkan gelar Serie A bersama Napoli dan Inter Milan, dan karenanya, ketidakhadirannya merupakan kemunduran bagi Napoli, yang gagal mempertahankan gelar Serie A.
Piala Dunia mendatang akan menjadi yang keempat bagi Lukaku sebagai pemain, karena ia telah meraih medali perunggu bersama negaranya di Piala Dunia 2018 di Rusia.
Selain itu, Lukaku juga menjadi salah satu striker paling produktif di Eropa di level internasional, setelah mencetak 90 gol dalam 126 pertandingan untuk Belgia.
Masih harus dilihat apakah striker berusia 33 tahun itu mampu menambah jumlah golnya di turnamen yang akan digelar di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada; Namun, pasokan bola kepadanya tidak boleh berkurang.
ANDA MUNGKIN JUGA SUKA: Cedera Lennart Karl: Sensasi Remaja Akan Absen di Piala Dunia Setelah Cedera Latihan
Cedera Romelu Lukaku: Playmaker Belgia Siap Memberikan Pasokan
Belgia memiliki beberapa pemain yang bisa memberikan bola kepada pemain bernomor punggung sembilan Belgia itu di lini depan.
Kevin De Bruyne, yang akan bermain di Piala Dunia keempatnya, tetap menjadi salah satu pengumpan dan pengumpan bola terbaik. Berikutnya, ada Jeremy Doku, ancaman konstan dari sayap kiri, yang pergerakannya biasanya diakhiri dengan memberikan umpan terakhir kepada striker.
Youri Tielemans adalah gelandang lain yang mampu memberikan umpan silang berkualitas ke dalam kotak. Pemain berusia 29 tahun itu mencatatkan assist melawan Tunisia untuk menunjukkan kehadirannya dalam pertandingan tersebut. Dengan demikian, Lukaku seharusnya tidak kekurangan penyedia di timnya di Piala Dunia mendatang.
Charles De Katelaere menjadi starter pada laga melawan Tunisia dan juga berhasil mencetak gol. Namun, rekornya yang hanya mencetak enam gol untuk negaranya dalam 30 pertandingan tidak sebanding dengan jumlah Lukaku.
Lukaku juga memiliki lebih dari 300 gol dalam karir klubnya dan memiliki pengalaman bermain untuk Chelsea, Manchester United, Inter Milan dan Napoli. Oleh karena itu, dia jauh lebih memenuhi syarat daripada De Katelaere untuk menjadi starter bagi Belgia di Piala Dunia mendatang.
Tim Belgia berharap cedera Romelu Lukaku tidak menghentikannya untuk tampil di turnamen tersebut. Ini bisa jadi Piala Dunia terakhir bagi Lukaku, dan ia harusnya termotivasi untuk tampil baik di Piala Dunia tersebut.
Pemain generasi emas Belgia gagal menjuarai Piala Dunia 2018 dan finis ketiga. Namun, Lukaku harus ada di sana untuk menebus kesalahannya dan meraih kejayaan sekali lagi di turnamen mendatang di Amerika Utara.
Foto Utama
Kredit: IMAGO / Berita Foto
Piala Dunia 2026
Kalau biasanya Piala Dunia itu sudah terasa besar, edisi 2026 bakal terasa seperti “festival sepak bola global” versi maksimal. Untuk pertama kalinya, turnamen ini digelar bareng oleh tiga negara sekaligus—Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko—yang artinya vibes-nya bakal campur aduk antara budaya, stadion, dan gaya dukungan fans yang beda-beda. Bukan cuma soal lokasi, formatnya juga naik level: dari 32 jadi 48 tim. Kebayang nggak, lebih banyak negara ikut, lebih banyak cerita underdog, dan peluang kejutan makin gede. Bisa jadi tim-tim yang biasanya cuma numpang lewat, kali ini malah bikin sejarah. Di sisi lain, jadwal yang makin panjang bikin turnamen ini terasa seperti maraton emosi—dari fase grup yang padat sampai knockout yang makin brutal. Dan karena ini Piala Dunia FIFA 2026, ekspektasinya jelas: gol dramatis, momen ikonik, dan pemain-pemain muda yang tiba-tiba jadi bintang dunia dalam semalam. Intinya, 2026 bukan cuma tentang siapa yang angkat trofi, tapi tentang pengalaman global yang lebih luas—lebih ramai, lebih chaotic, tapi justru itu yang bikin seru.

